Karena saran (tips) ini saya pikir sangat penting, jadi sengaja ditulis di page, bukan di post. Saran-saran ini didapat selama saya menggeluti kegemaran berburu web hosting sejak tahun 1995-an. Saya suka mencari web hosting terbaik tapi harus semurah mungkin. Langsung saja ya?

1. Kestabilan dan kecepatan

Anda mencari web hosting untuk apa? Kalau sekedar hobi membuat blog yang pengunjungnya masih sedikit, anda bisa memilih shared web hosting atau cloud web hosting. Di situ kita bisa fokus pada membuatan isi blog. Tidak perlu pusing memikirkan proses pemasangan sistem operasi, pemilihan web control panel, update sistem operasi, setting security, dan sebagainya.

Tapi bila anda ingin bebas merdeka, pilihlah VPS. Agak mahal sih, tapi di sini anda seolah menjadi pemilik server. Istilahnya, mau dipakai apa pun, silakan saja. Cuma memang, anda harus punya keahlian lebih mendalam tentang setting sistem operasi. Jangan berharap terlalu banyak dari Technical Support. Mereka tidak akan membantu!

2. Inode: Pada shared web hosting, ini paling penting.

Banyak orang berpikir, faktor paling penting dari shared / cloud web hosting adalah kapasitas media penyimpanan dan RAM. Itu salah!

Percuma kita diberi kapasitas media penyimpanan (disk) sampai 10 GB, bila Inode hanya diizinkan sampai maksimal 100 ribu inodes. Inode adalah jumlah file dan folder. Satu file dihitung 1 inode. Satu folder juga dihitung satu inode. Bahkan file kecil yang cuma berisi huruf “A”, tetap dihitung 1 inode. Bila kita diberi inode 100 ribu, artinya kita hanya bisa membangun dua Moodle dan satu Wordpress.

Inodes full.
Disk space 5,21 GB tidak bisa dipakai bila inodes full.

Celakanya, Informasi tentang inode jarang dicantumkan di “brosur”. Anda baru akan tahu berapa inode yang diberi, setelah anda membayar.

3. Terminal

Sekali pun anda adalah pemula dan sekarang merasa belum membutuhkan Terminal, tapi pada suatu saat nanti, anda akan memerlukan Terminal, entah itu melalui emulasi Terminal yang disediakan oleh CPanel, atau melalui PuTTY. Banyak hal yang sulit dilakukan tanpa akses ke Terminal. Sebagai contoh: Memindahkan Moodle. Masalah akan terbentur pada proses import database. PhpMyAdmin biasanya hanya mengizinkan file berukuran maksimal 50 MB dan proses maksimal 30 detik. Untuk Moodle yang telah dipakai selama 1 tahun oleh sekitar 1000 siswa, ukuran file SQL-nya bisa sampai 6 GB. Setelah di-compress menjadi file tar.bz2, ukurannya pun masih besar. Sebenarnya bisa diakali dengan menaruh perintah di Crobjob. Tapi ketika ada kegagalan, maka kita sulit mengetahui letak kesalahannya.

Inti-nya: Bila tidak diberi fasilitas Terminal, lebih baik jangan buka akun.

Celakanya, fasilitas Terminal sama seperti Inodes. Tidak terlihat di “brosur”. Jadi harus ditanyakan dulu.

Beberapa perusahaan yang tidak memberi akses ke Terminal yang pernah saya coba adalah: Cloudhosting dari Exabyes paket EBiz Lite v7 – Linux (Rp 600 ribu/tahun), HostUs paket CPanel Shared Hosting Premium (US$ 28/tahun), idCloudHost paket Cloud Hosting CPanel Starter Pro (Rp 170 ribu/tahun).

Sedangkan yang memberi akses ke Terminal adalah Hostens paket Web Hosting (US$ 20/tahun), Hoster.co.id paket HosterOne (Rp 399 ribu/tahun), LautanHost paket Cloudhosting (Rp 499 ribu/tahun).

Bila Terminal adalah keharusan, sebaiknya kita menyewa VPS, lalu pasang VestaCP yang gratis. Banyak VPS murah bertarif US$ 2.5/bulan (luar negeri) dan Rp 600.000 tahun pertama (dalam negeri). Dalam setahun, biayanya tidak jauh berbeda dengan Web Hosting CPanel, tapi dilengkapi akses Terminal dan tidak ada batasan inode kecuali disk full. Salah satu VPS yang saya pakai, telah digunakan sejak tahun 2014. Sampai sekarang lancar jaya, tidak ada masalah.

4. Hindari Unlimited Web Space.

Jangan pernah berpikir, unlimited berarti tak terbatas. Selalu ada tanda bintang kecil di belakang kata itu. Setelah kita membayar, jangan kaget bila kita suatu saat mendapat “surat cinta” seperti ini:

  • Anda menyimpan file terlalu besar.
  • Anda menaruh file ZIP yang bukan untuk keperluan web.
  • Tabel x pada database terlalu besar. Silakan dioptimalkan.

Bila peringatan di atas diabaikan, siap-siap akun anda disuspend dan tidak ada pengembalian uang.

Lebih baik carilah yang limited disk space (misalnya 20 GB). Yang seperti ini jarang dicereweti.

5. Hindari diskon di tahun pertama.

Web itu urusan jangka panjang, kecuali untuk mahasiswa yang mengerjakan tugas dari dosennya. Percuma anda diberi diskon 85% menjadi cukup membayar Rp 30.000 di bulan pertama, tapi di bulan ke dua dan seterusnya tidak ada diskon. Artinya, mulai bulan ke 2 anda harus membayar Rp 200 ribu. Bila tarif bulanan mulai mahal, mungkin anda berminat memindahkan ke layanan hosting lain yang lebih murah. Tapi perlu diketahui: Memindahkan web site ke server lain adalah suatu hal yang melelahkan. Belum lagi resiko gagal atau menemui masalah akibat ketidakcocokan software yang terpasang.

Bila tarif web hosting / shared web hosting tanpa diskon mencapai di atas Rp 100.000, sebaiknya sewa VPS saja.

Di luar negeri banyak VPS bertarif $3.5/bulan (sekitar Rp 48.000/bulan).
Anda berminat? Saya berikan voucher $100 untuk anda yang minat mencoba VPS.

6. Sudah berapa lama perusahaan berdiri?

Kita bisa menyelidiki dari usia nama domain. Juga bertanya ke mbak Google. Bila perusahaan itu baru berdiri 1 tahun dan anda tetap mau memakai jasanya, maka anggap saja ini uji nyali. Tahun depan, bisa saja perusahaan itu tutup.

7. Bayar maksimal 1 tahun ke depan. Jangan lebih.

Perkembangan teknologi begitu pesat. Jangan tergiur diskon besar asalkan kita membayar, misalkan, 5 tahun depan. Tidak akan ada yang tahu bagaimana keadaan 4 tahun ke depan. Pengalaman saya, makin lama usia hosting kita, maka semakin banyak masalahnya. Mungkin server menjadi lambat, mungkin sering down, bahkan mungkin juga perusahaannya bangkrut.

### REKOMENDASI ###

Catatan tanggal 16 Februari 2020:

Bulan Februari 2020 saya mencoba membuka akun di Hostens, HostUs (luar negeri), LautanHost, dan Hoster (dalam negeri). Sengaja saya mencari paket web / cloud hosting berdana mepet (budget web hosting). Cocok untuk guru bergaji kecil seperti saya. (Curcol deh).

  • Hostens: Kelebihan: Tersedia Terminal. Tarif paling murah. Perusahaan tua. Kekurangan: Server tidak stabil. Ada batasan Inodes.
  • HostUs: Kelebihan: Media penyimpanan bertipe NVMe (5 kali lebih cepat dari pada SSD). Ada dedicated IP. Sangat jarang sebuah paket shared / cloud web hosting yang memberi 1 IP public. Tarif murah. Kekurangan: Ada batasan inodes yang lebih kecil dari pada Hostens. Tidak ada Terminal.
  • Lautan Host: Kelebihan: Ada Terminal. Tidak ada batasan inodes (untuk paket Cloud Hosting). Data center di Singapura (DigitalOcean). Kekurangan: Agak lebih mahal dibanding dengan 3 yang dibandingkan di sini.
  • Hoster: Kelebihan: Ada Terminal. Kekurangan: “Unlimited” yang tidak “unlimited”.

Kesimpulan: Saya lebiih memilih LautanHost, kemudian HostUs, Hoster, baru Hostens.

Halaman ini akan diupdate bila ada tips baru. Silakan datang lagi di waktu lain.