Membangun Website Sekolah Dengan VPS dan Bitnami

Web Hosting

Pada kiriman kali ini saya akan memberikan cara lain yang mungkin terdengar “nyelenéh”, sebab biasanya orang lain membangun website menggunakan cPanel, Plesk, VestaCP, Webmin/Virtualmin, atau ISPConfig. Alternatif yang diajukan adalah membangun VPS bersistem operasi Linux Ubuntu 16.04, kemudian diisi Bitnami. Mengapa saya memilih cara ini? Selain karena sangat mudah, juga kita tidak usah pusing memikirkan update. Biarlah Bitnami yang mengurusnya. Plus mendapat PHPMyAdmin yang lebih aman karena hanya bisa diaksés melalui localhost.

Mengapa memakai VPS? Bukankah ada shared web hosting yang biayanya bahkan bisa semurah Rp 10.000/bulan? Jawabnya, karena memiliki VPS seolah mempunyai sérver sendiri, sedangkan shared web hosting berupa sérver yang dipakai beramai-ramai. Kalau tetangga websitenya terkenal dan sibuk, website kita bisa ikut-ikutan lemot.

Setelah mempraktékkan tutorial ini, anda akan mempunyai sebuah VPS yang berisi website sekolah berbasis WordPress dan Sistem Manajemen Belajar (LMS) Moodle. Dana yang dibutuhkan sekitar $4-$10/bulan, di luar biaya nama domain.

Pembahasan akan dibagi menjadi 7 bagian yaitu:

  1. Memasang VPS.
  2. Memasang Bitnami LAMP.
  3. Memasang Modul Bitnami WordPress.
  4. Memindahkan Folder WordPress ke Root.
  5. Menjalankan Bitnami LAMP Setiap Server di-Boot.
  6. Menambahkan Moodle.
  7. Simpulan dan Saran.

Anda dianggap sudah mampu melakukan konéksi SSH ke sérver, menggunakan PuTTY atau aplikasi lain. Juga terbiasa bekerja di lingkungan Command Line (Terminal). Bila masih bingung, silakan membaca artikel saya yang lain, yang khusus membahasa tentang SSH dan PuTTY.

1. Memasang VPS.

Bagi anda yang sama sekali belum mempunyai VPS, ada beberapa alternatif yang bisa dipilih. Sepengetahuan saya, VPS yang terbaik dan termurah adalah VPS dari perusahaan luar negeri, yaitu Digital Ocean, Amazon Web Service, Google Cloud Platform, Linode, dan Vultr. Bila dana bukanlah masalah bagi anda, maka Digital Ocean adalah pilihan terbaik. Tapi bila dana anda sangat terbatas dan tidak mementingkan performa, anda bisa memilih OVH.

Langkah 2: Memasang Bitnami LAMP.

Bitnami LAMP Stack bisa diunduh di https://bitnami.com/stack/lamp/installer . Pilihlah pakét yang disarankan. Dari pada mengunduh dulu ke harddisk lokal kemudian mengunggah ke sérver, lebih baik unduh langsung ke sérver. Caranya: Lakukan dulu SSH ke server (misalnya SSH [email protected]). Setelah masuk, berikan perintah ini:

Prosés instalasi segera berlangsung. Umumnya anda cukup menerima pilihan yang disodorkan dengan menekan tombol Y atau énter, kecuali pada lokasi instalasi, sebaiknya tentukan /opt/bitnami. Juga jangan lupa password root MySQL karena akan dipakai pakai instalasi modul lainnya, misalnya WordPress dan Moodle.

Ingat:
Lokasi instalasi tentukan di /opt/bitnami
Jangan lupa password root MySQL

Langkah 3: Memasang Modul Bitnami WordPress.

Lahkah 2 sangat mudah kan? Nah, apalagi langkah 3. Jauh lebih mudah.
Modul-modul bisa diunduh di https://bitnami.com/stack/lamp/modules. Unduh lalu pasang modul WordPress dengan memberikan perintah:

Ikuti petunjuk yang muncul. Anda akan ditanya password root MySQL yang diketik di langkah 2.

Langkah 4: Memindahkan Folder WordPress ke Root.

Lokasi WordPress anda berada di http://domain/wordpress. Sepertinya kurang nyaman dilihat ya? Akan lebih bagus bisa di ada di root, iya kan? Saya sempat pusing bagaimana cara memindahkannya, dari mengoprék sétting Apache sampai mengutak-atik .htaccess. Ternyata ada yang jauh lebih mudah. Cuma satu baris perintah, yaitu:

Mudah kan? Sekarang WordPress telah “pindah” ke root.

Langkah 5: Menjalankan Bitnami LAMP Setiap Server di-Boot.

Bitnami LAMP tidak otomatis dijalankan setiap sérver di-reboot. Bila di Windows ada istilah autoexec.bat untuk menjalankan aplikasi secara otomatis, maka di Linux kita bisa menempuh banyak cara. Cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan crontab. Caranya, ketik perintah di bawah ini:

Saat pertama kali dijalankan, kita diminta menentukan éditor default. Pilihlah sesuai kesukaan anda. Kalau saya sih, memilih nano. Setelah itu anda bisa mengédit file crontab untuk root. Tambahkan dua kode berikut ini:

Simpan dengan menekan tombol Ctrl+O, énter, dan Ctrl+X. Selesai. Mudah sekali kan?

Catatan tambahan tanggal 1 Maret 2017:
Dari pengalaman saya, masalah yang dihadapi bila di server terpasang Moodle adalah MySQL bisa sewaktu-waktu terhenti. Bila ini terjadi, maka bukan hanya Moodle yang macét, tapi WordPress pun bisa ikut-ikutan macét. Salah satu solusinya adalah masuk ke VPS melalui SSH kemudian memberikan perintah reboot.

Cara lain yang saya pakai adalah membuat crontab yang setiap 5 menit memantau keadaan MySQL. Bila terhenti, MySQL direstart. Sepertinya ide bagus kan? Cara membuatnya adalah sebagai berikut.

Ketik perintah: sudo nano ~/cekmysql
Kemudian ketik kode berikut ini. Setelah itu disimpan dengan menekan Ctrl+O dilanjut dengan menekan Ctrl+X untuk keluar dari éditor Nano.

Berikan perintah sudo chmod +x ~/cekmysql agar bisa diéksekusi.
Langkah terakhir, buka crontab dengan perintah sudo crontab -e
Tambahkan kode berikut ini ke dalam crontab.

Selesai. Mulai sekarang mySQL tidak akan macét lebih dari 5 menit.

Langkah 6: Menambahkan Moodle.

Bila RAM VPS anda sekurang-kurangnya 1 GB, anda bisa memasang Moodle. Jangan coba-coba memasang bila RAM hanya 512 MB karena sewaktu-waktu MySQL bisa crash. Untuk memasang Moodle, caranya sama seperti memasang WordPress yaitu dengan perintah:

Mau memasang CMS lain misalnya Joomla! atau Magento? Tidak masalah. Hanya dengan 3 baris perintah seperti di atas, keinginan anda bisa terwujud. Anda bisa menambahkan sebanyak mungkin CMS, sepanjang kapasitas disk-nya masih memungkinkan. Inilah asyiknya sistem modul dari Bitnami. Yang penting satu CMS hanya dipakai sekali. Artinya kalau sudah memasang WordPress, maka di VPS tersebut tidak bisa dipasang modul WordPress ke 2 tanpa diakalin atau disiasati terlebih dulu.

7. Simpulan dan Saran

  1. VPS dipilih karena kinerjanya lebih baik dari pada shared web hosting. Hambatan faktor biaya yang mahal bisa diselesaikan bila memakai VPS dari luar negeri bertarif hanya $5/bulan, misalnya Digital Ocean atau Vultr. Walau pun demikian, mémang tetap dituntut pengetahuan lebih baik tentang sistem operasi (utamanya Linux) ketimbang memakai web hosting yang sudah dilengkapi CPanel atau Plesk.
  2. Bitnami dipilih karena kemudahan instalasi dan prosés update yang berlangsung otomatis. Ini sangat terasa manfaatnya pada Moodle —yang sampai artikel ini dibuat— tidak semudah update seperti di WordPress.

Pilihlah VPS yang berlokasi di Singapura. Walau pun terkesan tidak nasionalis, tapi harus diakui  infra struktur di Singapura masih lebih baik dan secara géografis paling dekat dengan Indonésia. Dari pengalaman saya, sérver di Indonésia justru lebih sering down dan terasa amat lélét bila diaksés dari luar negeri.

Sekian pembahasan saya. Semoga bermanfaat. Anda bisa melihat contoh penerapan tutorial ini di https://www.mawan.org.

VPS murah. Perbulan cuma seharga 1 mangkok bakso ($0.99/month). Klik di sini.
Mau mendapat bonus $20? Mendaftarlah menggunakan link ini. Penawaran terbatas!

Tinggalkan Balasan